Sunday, 18 October 2015

Seorang Juru Tulis Yang Kehilangan Buku (Mikrofiksi)

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Kadir, seorang juru tulis. Menyesal dan merana selama tiga hari, gara-gara bukunya jatuh. Seorang sahabat yang menangkap kesedihan menyarankannya untuk membeli buku yang sama.

“Buku itu sulit dicari, lagipula kau tak akan mendapatkan cerita yang serupa pada dua buku yang identik sekaliupun” kata Kadir.

Sang sahabat menyerah. Dia paham bahwa Kadir sang Juru Tulis susah ditebak jalan pikirannya, tapi mencoba mengira-ngira teori untuk menjelaskan argumen Kadir tadi.

Pertama, Kadir pasti terhubung dengan sejarah tertentu dengan buku itu. Kedua, buku itu menjadi sejarah tertentu bagi Kadir. Atau, yang ketiga, uang hasil profesi juru tulisnya terselip di antara halaman buku itu.

Sang Sahabat memikirkan lagi tiga teorinya. Tak puas, ia menanyai Kadir untuk memastikan.

Kadir menjawab, “Buku yang jatuh itu adalah hadiah darimu”. 

Wednesday, 14 October 2015

7 Rukun Islam Ekologis; Cara Hidup Bahagia Ekologis dan Islami

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Islam pada dasarnya merupakan ajaran yang menawarkan konsep peningkatan kualitas hidup yang bertopang pada ajaran untuk mengikuti kebenaran. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan bahwa Allah maha benar dan maha mulia sebab telah menciptakan alam semesta menurut aturannya tertentu.

Aturan itu telah menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia, dan lingkungan hidup sebagai bagian dari ekosistem alam semesta. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh sebab fungsi manusia di alam semesta adalah menjaga, dan merawat lingkungan.

Setiap nabi, selalu punya tugas dan fungsi ekologis. Nabi Nuh, diperintahkan untuk menyelamatkan hewan, tumbuhan, dan manusia yang berbakti untuk Allah dari kekecauan yang ditimbulkan oleh sikap eksploitatif sekelompok manusia di zaman itu seperti mencemari air, membabat hutan karena keserakahan, dan memperbudak manusia.

Nabi Sulaiman, yang mampu berinteraksi dengan lingkungan, termasuk hewan-hewan. Nabi Sulaiman memperoleh informasi dari lingkungan tentang kejahatan-kejahatan manusia. Nabi Muhammad adalah seorang pengembala yang berkasih terhadap gembalaannya serta memerintahkan pengikutnya untuk menjaga perempuan, anak-anak, dan lingkungan sekalipun dalam masa perang.

Merawat dan menjaga lingkungan berfungsi bagi peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Berbanding dengan sikap eksploitatif manusia terhadap lingkungan dapat memicu kerugian bagi kehidupan manusia itu sendiri. Meretakkan alam berarti meretakkan manusia.

Tujuh rukun Islam Ekologis ala Rumah Baca Komunitas di bawah ini disusun dalam rangka kampanye ekoliterasi.

  1. Merawat alam adalah tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardh
  2. Amal jariyah ekologis adalah aktivitas perawatan ekologi yang punya daya replikasi karena manfaat dan kegunaannya bagi alam semesta yang tak putus.
  3. Seorang hamba Allah yang baik adalah yang mampu menjaga alam sebagaimana dia menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia.
  4. Prinsip agama Islam menjelaskan tiga hal yang tak boleh dirusak; Perempuan, anak-anak, dan lingkungan.
  5. Memanfaatan air sisa wudhu untuk keperluan menjaga unsur hara tanah. caranya ialah dengan menampungnya untuk keperluan membasahi tanah kering atau tandus. di beberapa Masjid model seperti ini sudah dilakukan dalam rangka mengurangi dampak tanah kering akibat kemarau.
  6. Menjaga kualitas kristal air dengan pemanfaatan yang beradab, artinya digunakan untuk perihal yang bermanfaat, tak mubazir, dan digunakan untuk kepentingan banyak orang.
  7. Islam mengajarkan bahwa air, udara, dan tanah adalah wujud kasih sayang Allah terhadap manusia. Air, udara, dan tanah digunakan bebas oleh manusia untuk menopang kehidupannya. merawat air, udara, dan tanah berarti merawat kasih sayang Tuhan terhadap manusia, termasuk menjaganya dari proses eksploitasi dan komodifikasi.

Tuesday, 13 October 2015

Pelaku-Pelaku Pandora

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Pemeritah yang akhir-akhir ini banyak menyerukan mulai terdengar kosong. Kalau itu ibarat sirup merah, mungkin hanya ginju. “Agar kita tidak membosankan, selain banyak bicara, bekerja juga harus bisa.” Begitu kata si Kasmir kepada Bonijan karena kesal dengan seruan pemerintah untuk “menjaga lingkungan” di koran. Kasmir, pria tua yang sehari-hari senang melucu dan bahagia. Pakaiannya hanya tiga pasang; satu untuk keperluan sholat, satu untuk keperluan ke sawah—yang juga merangkap pakaian sehari-hari, dan satunya lagi sebuah kaos pemberian kawannya. Tiga-tiganya sebenarnya tak berbeda. Baju keperluan sholat adalah koko yang diperolehnya dari hadiah seorang sanak yang kebetulan berkunjung sekitar dua tahun lalu. Warna sebenarnya putih polos, tetapi belakangan ini sedikit krem.

Kasmir bukan pria tua yang miskin. Dia sebenarnya punya sedikit tanah, sebenarnya “banyak” kalau tak dirampas untuk keperluan area latihan militer. Musababnya pun dia tak ingat, waktu itu dia cuma dibilang “ini tanah sejak zaman dulu udah dipake untuk kamp tentara pak” oleh seorang anak muda berbadan tegap. Dia tak tahu menahu tentang kemiliteran. Apa pangkatnya, kontribusinya, serta mengapa mereka penting. Dia sama sekali tak tahu. Sepanjang yang dia tahu, militer mengambil tanahnya yang indah mencium ombak karena nyaris tepat di pesisir pantai.

Pasca pengambilan tanah itu, kehidupan Kasmir biasa saja. Meskipun ada perasaan ganjil dalam hati. Coba kalau Salim masih hidup, tentu dia bisa jadi teman curhat pikirnya. Salim, teman Kasmir tiga bulan lalu ke Jakarta bersama rekan-rekan yang lain. Mereka mengadu soal tanah yang dirampas untuk keperluan tambang. Salim adalah warga desa sebelah yang konon menyimpan kekayaan tambang di dasar bumi. Mengingat Salim, air mata Kasmir menetes. Diri periangnya tiba-tiba melankolis. “Oh Salim, coba para preman itu ngak bunuh dirimu. Kowe kuwi orang biasa wae kok dipateni” desah Kasmir. Bonijan yang sedari tadi menemai Kasmir minum kopi melihat air mata menetes dari Kasmir. Rasanya, Bonijan ingin terkekeh, sebab muka Kasmir sama sekali tak pantas untuk air mata. Wajah kotaknya lebih mirip seorang berhati keras.

Salim sebulan yang lalu meregang nyawanya. Si Topik sama Polim, dua preman desa menggebukinya sampai mati. Kasmir tak tahu kenapa dua preman itu bisa demikian kejam. “Wong karo wong kok iso main bunuh-bunuhan, koyok rak bakal mati wae” Lagi-lagi batinnya bergejolak tanya. Bonijan yang tak sabar menunggu Kasmir kelamaan merenung dan bersedih ikut angkat bicara.

“Pak, sebenarnya ini ada masalah apa?”. Kasmir menata Bonijan, pikirannya justru makin melayang pada suatu masa depan yang tak akan indah untuk anak muda seperti Bonijan. Dia berpikir sejenak, meskipun dia bingung akan bicara pesimis atau optimis.

“Ya, nanti juga kamu bakalan sadar, saya sendiri belum tahu ini rasanya gimana”. Kasmir, meneguk kopinya sedikit. Meski panas tak lagi bertuah di air. Kasmir benar-benar seorang tua yang tidak banyak tahu harus bilang apa jika ditanya. Satu-satunya yang disadarinya adalah bahwa, setelah si Salim wafat, beberapa tanah tiba-tiba sudah dipalang oleh tentaran. Anak-anak muda itu, yang berpakai loreng dan bertatap arogan tak mampu dilawannya.

Dia mengingat waktu seorang anak muda berpakaian loreng hijau itu mencoba menggertaknya, “kalau bapak macam-macam kita ngak segan-segan. Ini soal pertahanan negara pak. Negara sekarang sedang gawat.” Kasmir saat itu mengkerutkan dahinya. Entah harus bangga patriotis atau melemah meringgis. Itu tanahnya, kalau untuk kebutuhan negara, mengapa tidak minta baik-baik?. Lagipula, Kasmir tak tahu apa itu negara, yang dia mengerti bahwa ada seseorang yang disebut sebagai presiden, nah dia itu kepala Negara. Selebihnya dia tak merasakan efeknya.

Waktu dia nyaris mati karena terserang DBD, dia hanya minta tolong ke Mira seorang anak tetangga untuk memanggilkan mantri. Dia sulit menentukan mana yang telah menolongnya di masa gawat itu. Mira, atau Negara. Dia tambah bingung. Bonijan menunggu Kasmir lagi. Dan malam yang kian gerah itu seperti menjadi saksi kerumitan. Sebuah pandora yang tak jelas pelakunya.

Bonijan, “Pak, gimana pak?”. Kasmir bingung lagi.

Monday, 12 October 2015

Soal Fasilitator dan Pendekatan Partisipatoris Bagi Anak-Anak (Catatan Fasilitator Sekolah Literasi #1)

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Belakangan ini baik gerakan sosial, atau lembaga pendidikan formal mulai mengenai istilah “fasilitator”. Istilah ini sebenarnya merupakan metamorfosa penting dari model pedagogi kritis yang berkembang di Indonesia pada tahun 90-an. Tetapi pada masa itu sebenarnya hanya terdapat dua jenis pemaknaan terkait dengan istilah fasilitator. Pertama fasilitator sebagai seorang yang membawa partisipan untuk masuk ke diskursus seputar realitas ekonomi-politik yang bertujuan membangun basis massa “berkesadaran”. Kedua adalah fasilitator sebagai bagian dari proses dialektika. Makna pertama banyak digunakan dalam model pendidikan alternatif yang dikembangkan oleh gerakan sosial di Indonesia. Sedangkan makna kedua, meskipun telah menjadi kredo dari model pendidikan partisipatoris, dalam kenyataan lapangan adalah yang paling sulit dipraktikkan.

Sewaktu merancang Sekolah Literasi pada pertengahan bulan Agustus, Abdullah menjelaskan kepada saya bawah tujuan utama Sekolah Literasi adalah sebagai “sarana distribusi nilai-nilai”. Menurut Abdullah nilai-nilai emansipatif RBK harus dibagi melalui suatu forum diskusi yang “tematis dan sistematis”. Gagasan itu sepenuhnya berangkat dari kegelisahannya atas distribusi nilai-nilai emansipatif seperti apresiatif, liberatif, dan ekologis serta humanis yang dalam forum-forum diskusi sering menjadi basis aksiologis pegiat RBK. Tentu saja saya tertarik dengan gagasan tersebut dan mengusulkan kepada Abdullah agar tetap ada penekanan partisipatoris dalam proses pendidikan.

Pokok Tentang Pendidikan Partisipatoris

Kenyataanya menerapkan proses yang partisipatif dan menghindari dominasi adalah perihal yang sangat menantang dalam setting pendidikan model apapun. Sewaktu menjadi fasilitator untuk orientasi awal dan materi dinamika gerakan saya menyadari beberapa hal yang harus direfleksikan terkait dengan penerapan model atau pendekatan partisipatoris.

Pertama, fasilitator harus memegang prinsip dasar yang menyatakan relasi antar subjek pertama-tama harus berangkat dari kesetaraan. Artinya, proses partisipatoris dan egaliter hanya dapat dicapai jika fasilitator pertama-tama berangkat dari asumsi bahwa dirinya dan partisipan adalah setara. Masing-masing partisipan termasuk fasilitator memainkan peranannya masing-masing. Partisipan merupakan subjek yang hidup dalam pengalaman dan persentuhan objektivitasnya sendiri. Sedangkan fasilitator memegan peranan sebagai pihak yang mengapresiasi segala basis gagasan subjek, termasuk kejadian, peristiwa, hingga kepercayaannya.

Kedua, fasilitator merupakan pihak yang menunjukkan bahwa setiap subjek memiliki persentuhan kekaryaannya masing-masing. Fasilitator menunjukkan bahwa setiap subjek memproduksi ataupun mereproduksi jenis kebudayaan secara unik. Tidak ada subjek yang tidak menghasilkan apapun dalam relasinya dengan kehidupan. Fasilitator jika diperlukan harus menunjukkan bahwa “kebudayaan” setiap subjek itu niscaya eksis. Dalam hal ini, fasilitator harus mampu menjadi pihak yang turut memberi afirmasi mengenai eksistensi kebudayaan pada aras otonomi subjek. Persoalan di sini harus dilihat dalam bahasa yang digunakan oleh Freire sebagai apresiasi.

Ketiga, peran sesungguhnya fasilitator tanpa menegasikan kehadiran sosial subjek yang lain adalah memungkinkan sebuah kesadaran baru bahwa diri setiap subjek adalah politis sehingga dapat menjalankan transformatif. Dalam hal ini, fasilitator bukan menjadi pihak satu-satunya yang menyadari realitas, dia hanya berperan sama penting dan setaranya dengan partisipan lain untuk mengemukakan gagasannya bahwa transformasi dari setiap kejadian, kebiasaan, dan pemikiran subjek atau partisipan mampu membuka dinamika baru.

Tiga hal di atas, saya ungkapkan kepada Abdullah di sela-sela evaluasi Sekolah Literasi. Mengingat dalam konteks tertentu Sekolah Literasi ini pun juga merupakan proses belajar bersama maka selalu ada ruang terbuka untuk membicarakan persoalan tentang kefasilitatoran ini. misalnya sering ditemukan beragam pertanyaan, “bagaimana memfasilitasi jika dinamika dalam kelas berubah?”, “apakah bisa seorang fasilitator mengubah tekniknya sementara proses sedang berlangsung?”.

Fasilitator lebih tepat menurut saya disebut sebagai seorang seniman daripada seorang pendidik. Fasilitator berhadapan dengan partisipan seperti sedang berhadapan dengan dirinya sendiri. Dinamika di dalam proses pendidikan partisipatoris merupakan persyaratan penting. Dinamika harus muncul sebagai wujud dari proses partisipatif dan merepresentasi secara eksistensial keberadaan fasilitator. Dinamika hanya muncul melalui pertukaran gagasan dan perilaku yang berjalan secara simultan, egaliter, terbuka, tetapi tanpa diskriminasi. Seorang pendidik yang dominan tentu saja tidak selalu memperoleh dinamika tersebut karena tujuan utamanya adalah transferring knowledge, sebuah pandangan yang begitu kuat dalam filsafat pendidikan bekas negara koloni.

Maka dalam soal bagaimana memfasilitasi dinamika yang sudah sewajarnya ada dan bahkan harus muncul. Sehingga tidak mengherankan jika setiap fasilitator membawa banyak kesiapan untuk berdialektika dengan dinamika. Mengganti teknik, termasuk dari sekian persiapan yang memungkinkan. Tetapi itu tidak menjadi beban yang berat jika fasilitator bergerak bersama dinamika. Kesulitan biasanya muncul karena fasilitator menganggap “segalanya” bersumber dari dirinya.

Model Partisipatoris bagi Anak-Anak

Model atau pendekatan partisipatoris pada dasarnya lebih dekat dengan kelompok-kelompok yang selama ini dianggap tidak signifikan dalam membentuk kebijakan. Mereka adalah sebagaimana yang disebut oleh Robert Chambers (2002) yakni perempuan, “orang miskin”, minoritas dari kalangan berbasis etnis atau agama, pengungsi, difabel, termasuk anak-anak.

Dalam proses evaluasi Sekolah Literasi beberapa partisipan memiliki kesan bahwa pendekatan partisipatoris asing digunakan untuk anak-anak. Bersama partisipan kami mencoba mendiskusikannya secara umum karena memang dibutuhkan suatu waktu reflektif khusus untuk persoalan ini. Tetapi buku Stepping Forward (Johnson, dkk: 1998) dapat memberikan informasi yang cukup perihal etika, metodologis, hingga implementasinya. Sekali lagi kami berharap ada waktu khusus untuk membicarakan topik yang sangat menarik itu dalam forum Sekolah Literasi.

Gagasan tentang “transformasi sosial itu mudah dan menyenangkan” yang sering muncul merupakan cara baru untuk memulai bagaimana memahami partisipatoris bagi anak-anak. Kedekatan antara transformasi sosial dan model pendidikan partisipatoris seakan mengikat suatu imajinasi bahwa prosesnya pasti “serius” dan jauh dari kesan “asik-kocak”. Kenyataannya justru sebaliknya, proses partisipatoris justru sebaiknya mengilustrasikan tentang kemungkinan menciptakan dunia (another world is possible). Sehingga mendayakan imajinasi yang berbasis sepenuhnya pada pergulatan praksis adalah salah-satu kunci penting. Hal ini tentu saja dapat diterapkan pada siapapun, termasuk anak-anak. Misalnya dengan memberikan pertanyaan seputar aktivitas, keinginan, dan hal-hal yang dianggapnya sebagai “dunia” hingga dilanjutnya dengan merancang agenda yang “sederhana” seperti berkumpul bersama untuk membersihkan tempat pertemuan atau mendekorasi pendopo.

“anak-anak merupakan pemilik masa depan” begitu Cak David mengungkapkan sewaktu merespon topik tentang Sekolah Literasi bagi anak dan remaja. Anak dan remaja merupakan salah-satu partisipan penting sebagai representasi dari kehadiran kelompok marjinal dalam proses penentuan masa depan. Pendekatan partisipatoris membantu proses menyelami dinamika anak-anak, yang pada sisi lainnya turut  membantu orangdewasa menemukan proses partisipatoris dalam arti yang paling mengesankan. Makna politis tentu saja sedang diupayakan untuk mendekatkan pengambilan kebijakan pendidikan berbasiskna pada penelitian partisipatoris yang melibatkan anak-anak dan peneliti yang berperan sebagai fasilitator. Dalam pengertian demikian, pendekatan partisipatoris tidak hanya bersifat pedagogis tetapi juga bersifat politis karena bertujuan menghasilkan pemahaman yang baik terkait dengan anak-anak. Maka partisipatoris juga merupakan teknik penelitian yang penting untuk dicoba terus-menerus. Sehingga proses pengambilan kebijakan dapat mengakar dengan basis sosiologisnya sendiri.

Sebagaimana Chambers, anak-anak termasuk kelompok “yang justru paling mampu memandang partisipasi secara terbuka sebagai hal yang penting dan prioritas” (Chambers, Fakih, dan 2002, hlm.x).  

*Tulisan ini adalah catatan untuk pelaksanaan Sekolah Literasi oleh Rumah Baca Komunitas tahun 2015.