Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, 13 October 2015

Pelaku-Pelaku Pandora

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Pemeritah yang akhir-akhir ini banyak menyerukan mulai terdengar kosong. Kalau itu ibarat sirup merah, mungkin hanya ginju. “Agar kita tidak membosankan, selain banyak bicara, bekerja juga harus bisa.” Begitu kata si Kasmir kepada Bonijan karena kesal dengan seruan pemerintah untuk “menjaga lingkungan” di koran. Kasmir, pria tua yang sehari-hari senang melucu dan bahagia. Pakaiannya hanya tiga pasang; satu untuk keperluan sholat, satu untuk keperluan ke sawah—yang juga merangkap pakaian sehari-hari, dan satunya lagi sebuah kaos pemberian kawannya. Tiga-tiganya sebenarnya tak berbeda. Baju keperluan sholat adalah koko yang diperolehnya dari hadiah seorang sanak yang kebetulan berkunjung sekitar dua tahun lalu. Warna sebenarnya putih polos, tetapi belakangan ini sedikit krem.

Kasmir bukan pria tua yang miskin. Dia sebenarnya punya sedikit tanah, sebenarnya “banyak” kalau tak dirampas untuk keperluan area latihan militer. Musababnya pun dia tak ingat, waktu itu dia cuma dibilang “ini tanah sejak zaman dulu udah dipake untuk kamp tentara pak” oleh seorang anak muda berbadan tegap. Dia tak tahu menahu tentang kemiliteran. Apa pangkatnya, kontribusinya, serta mengapa mereka penting. Dia sama sekali tak tahu. Sepanjang yang dia tahu, militer mengambil tanahnya yang indah mencium ombak karena nyaris tepat di pesisir pantai.

Pasca pengambilan tanah itu, kehidupan Kasmir biasa saja. Meskipun ada perasaan ganjil dalam hati. Coba kalau Salim masih hidup, tentu dia bisa jadi teman curhat pikirnya. Salim, teman Kasmir tiga bulan lalu ke Jakarta bersama rekan-rekan yang lain. Mereka mengadu soal tanah yang dirampas untuk keperluan tambang. Salim adalah warga desa sebelah yang konon menyimpan kekayaan tambang di dasar bumi. Mengingat Salim, air mata Kasmir menetes. Diri periangnya tiba-tiba melankolis. “Oh Salim, coba para preman itu ngak bunuh dirimu. Kowe kuwi orang biasa wae kok dipateni” desah Kasmir. Bonijan yang sedari tadi menemai Kasmir minum kopi melihat air mata menetes dari Kasmir. Rasanya, Bonijan ingin terkekeh, sebab muka Kasmir sama sekali tak pantas untuk air mata. Wajah kotaknya lebih mirip seorang berhati keras.

Salim sebulan yang lalu meregang nyawanya. Si Topik sama Polim, dua preman desa menggebukinya sampai mati. Kasmir tak tahu kenapa dua preman itu bisa demikian kejam. “Wong karo wong kok iso main bunuh-bunuhan, koyok rak bakal mati wae” Lagi-lagi batinnya bergejolak tanya. Bonijan yang tak sabar menunggu Kasmir kelamaan merenung dan bersedih ikut angkat bicara.

“Pak, sebenarnya ini ada masalah apa?”. Kasmir menata Bonijan, pikirannya justru makin melayang pada suatu masa depan yang tak akan indah untuk anak muda seperti Bonijan. Dia berpikir sejenak, meskipun dia bingung akan bicara pesimis atau optimis.

“Ya, nanti juga kamu bakalan sadar, saya sendiri belum tahu ini rasanya gimana”. Kasmir, meneguk kopinya sedikit. Meski panas tak lagi bertuah di air. Kasmir benar-benar seorang tua yang tidak banyak tahu harus bilang apa jika ditanya. Satu-satunya yang disadarinya adalah bahwa, setelah si Salim wafat, beberapa tanah tiba-tiba sudah dipalang oleh tentaran. Anak-anak muda itu, yang berpakai loreng dan bertatap arogan tak mampu dilawannya.

Dia mengingat waktu seorang anak muda berpakaian loreng hijau itu mencoba menggertaknya, “kalau bapak macam-macam kita ngak segan-segan. Ini soal pertahanan negara pak. Negara sekarang sedang gawat.” Kasmir saat itu mengkerutkan dahinya. Entah harus bangga patriotis atau melemah meringgis. Itu tanahnya, kalau untuk kebutuhan negara, mengapa tidak minta baik-baik?. Lagipula, Kasmir tak tahu apa itu negara, yang dia mengerti bahwa ada seseorang yang disebut sebagai presiden, nah dia itu kepala Negara. Selebihnya dia tak merasakan efeknya.

Waktu dia nyaris mati karena terserang DBD, dia hanya minta tolong ke Mira seorang anak tetangga untuk memanggilkan mantri. Dia sulit menentukan mana yang telah menolongnya di masa gawat itu. Mira, atau Negara. Dia tambah bingung. Bonijan menunggu Kasmir lagi. Dan malam yang kian gerah itu seperti menjadi saksi kerumitan. Sebuah pandora yang tak jelas pelakunya.

Bonijan, “Pak, gimana pak?”. Kasmir bingung lagi.

Monday, 12 October 2015

Orang-Orang Mercusuar

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Seperti berteriak di atas mercusuar atau di sudut pasar. Di temani beberapa merpati yang melembut di cakrawala, atau di temani beberapa pendengar setia. Sudamardji menengok di sekelilingnya. Beberapa temannya sudah merantau ke kota. Sudarmadji tahu, melebihi segala yang diketahui oleh perangkat desa di tempatnya membesar—dan mungkin sebentar lagi dia akan dipaksa membusuk. Mereka pergi bukan karena ingin menguji kerasnya kota, melainkan kerasnya tanah di desa tak sanggup untuk air setetes. Sekeras-kerasnya kota, tanah desa yang membatu adalah kepedihan.

Sudarmadji tak bisa lagi berharap bak seorang pengkhotbah di mercusuar. Kawan-kawannya, si Ismail, Yono, dan Faisal berikrar untuk turun gunung. “Jangan kau cegah tekat bulat kami Dji. Pak Yos sudah ikut rapat bareng orang-orang kota itu. Sebentar lagi desa kita cuma sejarah, yang penting jangan lupa untuk cerita ke anak-cucu kita.” Si Faisal menjelaskan.

Matahari sejak pagi dan siang merambat sangat cepat. Panasnya membakar kulit cokelat Sudarmadji. Di antara tanah kering dia mencoba peruntungan. Menanam jagung dan Ubi. Ikhtiar yang sama dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya. Bantuan air dari pemerintah daerah tiga bulan lalu tak memecahkan persoalan. Itu hanya menghambat tanah meretak di desanya. Ketakutan meracuni pikirannya. Sudarmadji sebenarnya memiliki seorang sahabat bernama Kartubi. Pemuda itu, seorang lulusan SD yang dikenalnya sejak dulu berkoar-koar kepada kepada dukuh untuk menghalangi sebuah pabrik di dekat muara sungai desa.

Kartubi, seorang pemuda pendiam, tak banyak bicara. Bahkan dalam teriakannya pun hanya sayup dan kerongkongan tipis. Kepada para pemuda, termasuk Sudarmadji, Kartubi berulangkali berkata “kalau ada pabrik dekat sungai, nanti airnya jadi kotor”. Sudarmadji mengakui kesimpulan Kartubi saat itu, akan tetapi sembari mengajukan satu pertanyaan. “Ya, tapi mo gimana lagi Kar. Kamu ngak liat di TV kalo menurut seorang peneliti bahaya limbah pabrik itu ngak seberapa?”. Sudarmadji ingat betul saat itu Kartubi terdiam. Sorot matanya tajam menatap sawah di depan jalan. Dia tak mampu berkata. Mungkin saja dia merasa tak mampu menjawab perkataan si peneliti itu. Batin Sudarmadji. Toh, nyali Kartubi sudah menciut saat dirinya dituduh memberontak, seorang komunis hanya karena bicara soal sungai yang akan kotor.


Seolah-olah perangai baik Kartubi tak berkuasa di atas semua tuduhan itu. Seketika ada kelupaan kepada sang muadzin sekaligus imam sholat shubuh itu. Sudarmadji mengenang Kartubi sekali lagi. Ingatannya juga mengenang sahabatnya yang merantau ke kota. Dia merasa tengah berteriak di atas mercusuar. Hanya ditemani beberapa orang yang sekarang pergi. Dan burung yang tak mungkin ada. Serta air yang lupa pada warna beningnya. Kami seperti lelahnya teriakan orang-orang mercusuar.