Showing posts with label Ekoliterasi. Show all posts
Showing posts with label Ekoliterasi. Show all posts

Saturday, 7 November 2015

Soal Obsesi Kelas Menengah

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Topik yang selalu menarik dibahas pagi-pagi. Berbicara soal harapan, setelah membaca tanggapan Cak David Efendi untuk merespon tulisan Pak Sankaran Krishan, ahli ilmu politik dari UH Manoa, "Number Fetish: Middle-class India’s Obsession with the GDP"...

Pertama, apakah dengan mendorong partisipasi entrepreneurship masyarakat, kualitas dan kuantitas pertumbuhan suatu negara dapat terwujud? Apakah itu membantu kualitas well-being individu atau komunitas di suatu negara menguat?.

Kedua, pertumbuhan kelas menengah dan human development index sebagaimana yang dikaji oleh banyak ahli kenyataannya justru mengkhawatirkan. sebagian besar orang tumbuh dan berkembang di iklim kompetisi, sedangkan sebagian lain tumbang karena prasyarat bersaing itu sendiri sudah eliminatif.

Ketiga, mana yang akan dipilih oleh pemerintah sebuah negara berkembang, memperkuat kapasitas individu dengan literasi, pendidikan, serta menjaga stok SDA dengan konservasi ekologi, atau memaksa pembangunan infrastruktur tak penting sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja, serta membiarkan ekspansi modal? ini namanya trade-off, dilematis.

Dilematis selain karena dua hal itu harus dipilih, tetapi juga karena dua hal itu ditopang oleh paradigma yang berbeda. Tetapi kenyataan dan daya-rusak dari berbagai kebijakan yang bertopang primer ke PDB sangat-lah ril. masyarakat ditagih dan dikejar negara karena terlambat membayar listirk (gimana dengan korporasi?), penambangan ekspolitatif (yang ini jangan ditanya lagi), tingkat kekerasan (apalagi yang ini), sulitnya membedakan antara keuntungan dan pendapatan, daya beli uang yang terpangkas hingga 40% (artinya uang nilai satu juga hanya punya daya beli 600 ribu).

Soal obsesi kelas menengah menjadi struktur sosial terdepan yang memajukan negara berkembang pada kenyataannya jauh dari harapan. Struktur sosial ini memang menjanjikan perbaikan-perbaikan sebagaimana yang tampak pada obsesi-obsesi serta imajinasinya tentang masa depan. Tetapi kalau diperhatikan lebih dalam, bagaimana separasi antara kota dan desa telah menjadi jurang sosial baru. Kelas menengah muncul dengan model eksploitasi tak langsung. Mereka mengeluarkan karbon dan sampah per-kapita yang mengkhawatirkan. Supermarket tempat kelas menengah memperoleh makanan, tak transparan dalam melaporkan sampah organik yang mereka buang. Tak ada yang menyalahkan itu dalam logika bisnis, tetapi membuang makanan di tengah krisis makanan saat ini tentu saja tak logis. 

Bagaimana keluar dari lingkaran ini? pertanyaan ini sebenarnya telah didekati dengan berbagai cara. Misalnya, dengan menawarkan dasbor baru berkaitan dengan perhitungan pertumbuhan ekonomi. Cara yang lain misalnya dengan memulai mengajukan sejumlah indikator dan variabel baru untuk mengukur kesejahteraan masyarakat yang menembus struktur sosial. Mengajukan pendekatan stok untuk mencegah ketidakseimbangan antara SDA di masa sekarang dan di masa depan. Selain itu, diperlukan suatu cara pengukuran pencemaran lingkungan per-Kapita dengan perspektif kritis. Artinya struktur sosial dan korporasi harus diberi tanggungjawab yang berbeda untuk menangani kerusakan-kerusakan ekologi. Cara ini adalah formal, meskipun ada pendekatan sistemik semacam humanisasi industri sebagaimana yang banyak diajukan pada era 80-an.

Thursday, 29 October 2015

Masjid Organik, Bagaimana Tempat Ibadah Menangani Persoalan Ekologi?

David Efendi, M.A, M.A.
Pegiat literasi di RumahBaca Komunitas

“...banyak komunitas agama yang ragu dalam memasang sumber-sumber energi terbarukan di tempat ibadah, atau mengambil sikap kuat terkait perubahan iklim.”

Penggalan kalimat di atas merupakan artikel yang dirilis oleh VoA Indonesia sebulan lalu. Ulasan yang berdimensi multi-negara ini hendak mengirimkan pesan bahwa masih lemahnya kontribusi agamawan dan lembaga agama dalam upaya mencari solusi terhadap persoalan-persoalan lingkungan global. Salah satu yang paling krusial hari ini adalah mengenai perubahan iklim dan pemasnasan global yang ditandai dengan hadirnya bencana ekologis yang beruntun mulai banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, dan kegagalan teknologi nuklir. Di dalam artikel tersebut, ada apresiasi positif mengenai semakin responsifnya kelompok agama dalam memberikan reaksi terhadap persoalan ekologis walau masih terkesan lamban. Banyak harapan dari masyarakat, kaum agamawan memperkuat peran emansipatif dan preventifnya dalam mengurangi persoalan-persoalan degradasi lingkungan hidup.

Dalam artikel ini, penulis hendak mendiskusikan gagasan dan praktik ideal bagaimana masjid sebagai institusi agama Islam yang mempunyai infrastruktur dan fasilitas memadai untuk melakukan langkah nyata menghadang bencana ekologis. Gerakan islam yang memberikan kontributif terhadap pencegahan bencana lingkungan merupakan gerakan islam progresif yang perlu ditumbuhkembangkan di Indonesia. Hal ini sangat penting karena ‘pra-kondisi’ lingkungan sudah menunggu respon tepat oleh kaum agamawan dan aktifis gerakan islam. Taruhlah misal, persoalan sampah di kota, pendangkalan sungai, pencemaran air, pemborosan air tanah, kerusakan hutan, hilangnya beragam spisies tumbuhan dan binatang yang berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Keadaan ini merupakan input yang akan memantik untuk menemukan cara-cara cerdas keluar dari lingkaran setan bencana ekologi.

Memposisikan peran organisasi lembaga keagamaan  menjadi suatu keniscayaan hari ini. Sebagai gagasan tertulis misalnya kita dapat melihat subyek organisasi bernama masjid. Masjid merupakan institusi agama islam sebagai tempat ibadah yang juga mempunyai peran sosial-budaya dan dalam banyak aspek juga menjadi sarana pendidikan politik bagi jamaahnya. Peran-peran sosial keagamaan masjid merupakan peran yang sudah dapat dikategorikan sebagai fungsi konvensional masjid. Sementara fungsi ekologis dari masjid merupakan fungsi yang sifatnya kebaruan yang perlu diperkuat dengan reformasi paradigmatik atau filosofis, preventif dan pembangunan praktik-praktik kegiatan yang berdimensi pro-lingkungan atau istilahnya eco-friendly.

Salah satu komunitas muslim di Amerika telah memberikan ilustrasi menarik bagaimana islam menjadi agama hijau (Abdul-Matin, 2008). Dalam level filosofi misalnya dijelaskan bahwa banyak sekali ayat-ayat dalam al-quran yang mengajarkan ummatnya untuk menjaga kelestarian alam dan juga tidak berbuat kerusakan. Banyaknya human error atau human-made disaster yang ada hari ini juga sudah lebih dari seribu tahun lalu diingatkan dalam al-quran. Jumlah “ayat-ayat ekologis’ cukup banyak jika dibaca di sana sehingga islam sendiri sebenarnya adalah agama yang tidak ramah terhadap kejahatan kapitalis dan korporasi perusak lingkungan. Hal ini memperlihatkan bahwa peran preventif ummat islam dalam urusan ekologi telah diperintahkan sebagai kewajiban. 

Kedua, mencegah kerusakan itu jauh lebih baik dari pada mengembalikan atau memperbaiki kerusakan sehingga kesadaran akan kewajiban pencegahan ini mutlak harus menjadi program atau kegiatan lembaga keagamaan islam. Pengetahuan akan memudarnya ‘martabat alam’ harus pula menjadi penggetahuan jamaah islam untuk menjadi common sense sekaligus mengidentifikasi langkah-langka strategis yang perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan fiqh atau ibadah tidak boleh dipisahkan dalam realitas hidup jamaah sehingga jamaah merasa dekat dengan alam dan lingkungan serta memberikan kontribusi bagi kelestariannya.

Terakhir, salah satu inspirasi dari praktik ramah lingkungan di sana adalah bagaimana masjid melakukan penghematan dan pemanfaatan air dengan maksimalisasi kegunaan air bekas air wudhu serta penghematan listrik. Eksistensi masjid di Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu baik yang berada di kota besar sampai pelosok desa pasti tterdapat komunitas yang mengelola keberadaannya. Adanya persoalan lingkungan seperti banjir sampah, banjir, debu, musnahnya spesies tumbuhan dan ketersediaan tanaman sayuran dan obat yang semakin tergantung pada impor adalah sedikit persoalan yang sebenarnya kelompok islam atau jamaah masjid dapat memberikan kontribusi. Hampir semua masjid mempunyai halaman, mempunyai sumberdaya manusia yang dpaat dikelola secara sinergis untuk menghasilkan beragam produk yang dapat memenuhi kebutuhan jamaahnyya atau pasar lokal.

Masjid dengan pembaharuan peran non-konvensional ini juga jika dilakukan massif maka masjid sebagai institusi agama secara pelan tapi pasti telah memberikan kontribusi bagi pencegahan pemanasan global dan pengurangan resiko perubahan iklim dengan pendekatan 3R: reduce, Reuse, dan rescyle. Selain itu juga dilengkapi dengan produksi tanaman yang menghasilkan sumber kehidupan berkelanjutan ( sustainable).

Dengan demikian, ribuan Masjid kemudian mempunyai fungsi pemberdayaan ekonomi, menghasilkan uang, sekaligus mempunyai peran penyelamatan ekologis. Masyarakat juga akan berintrekasi ke masjid bukan hanya untuk kepentingan ibadah tetapi juga untuk menjawab kebutuhan bibit tanaman tertentu, belajar skill daur ulang, skill pertanian vertikultur atau hidrorganik, produksi energi listrik terbarukan, atau pembuatan pupuk organik, dan kegiatan edukasi lainnya. Fungsi ekologi sekaligus penggerak roda ekonomi ini merupakan terobosan penting zamana ini karena memang kelompok agamawan tidak boleh mengalinisasikan dirinya dari persoalan-persoalan lingkungan karena memang di dalam diri pemeluk agama islam, khususnya, melekat kewajiban ekologis sebagai bagian dari manifestasi ke-iman-annya. Dengan peran-peran ekologis sebagaiamana disebut diatas, tempat ibadah ummat islam ini dapat disematkan gelar padanya sebagai “Masjid organik.”

sumber: 
http://www.rumahbacakomunitas.org/2015/10/masjid-organik.html     

Wednesday, 28 October 2015

Syaikh Subakir, Wali Songo Angkatan Pertama Ahli Ekologi

Oleh: KH. Shohibul Faroji Al-Robbani

Ketika Syaikh Subakir sampai di tanah Jawa, beliau bergelar Aji Saka. Beliau lahir di Persia, Iran. Memiliki spesialisasi di bidang Ekologi Islam. Beliau adalah cicit dari sahabat Nabi Muhammad Saw., yaitu Salman al-Farisi. Kemudian beliau menjadi utusan dari Sultan Muhammad I, sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode I.

Nasab lengkap beliau adalah Syaikh Subakir bin Abdullah bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatullah bin Syafiq bin Badrudin bin Umar bin Ali bin Salman al-Farisi.

Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya.

Syaikh Subakir memiliki keahlian di bidang Ekologi Islam. Artinya, Syaikh Subakir sangat perduli terhadap lingkungan dan fenomena-fenomena alam semesta. Para ahli sejarah babad Tanah Jawa melakukan kesalahan yang sangat mendasar dan merusak aqidah dan syariat Islam, yaitu menyebut Syaikh Subakir sebagai ahli memasang tumbal untuk mengusir roh-roh jahat. Kesalahan sejarah terhadap Syaikh Subakir ini akhirnya melegenda dan menjadi cerita yang penuh dengan mitos, takhayyul dan khurafat.

Siapakah Syaikh Subakir yang sebenarnya? Syaikh Subakir adalah ahli ekologi Islam. Pemerhati lingkungan dan alam semesta. Sebagai pakar dalam bidang ekologi, beliau banyak sekali membaca fenomena-fenomena alam terutama bidang Mountainologi, yaitu ilmu tentang Gunung Berapi. Kalau dalam sains modern, beliaulah ahli Meteorologi dan Geofisika.

Karena pemahaman awam yang belum sampai kepada sains modern seperti ilmu ekologi, meteorologi dan geofisika ini, maka setiap Syaikh Subakir mengadakan penelitian intensif di beberapa Gunung Berapi, mereka orang awam berasumsi bahwa Syaikh Subakir sedang memasang tumbal atau jimat. Akhirnya opini masyarakat awam ini menyebar dari mulut satu ke mulut yang lain. Dan oleh dukun-dukun atau paranormal, cerita tersebut dibumbui dengan takhayyul dan khurafat.

Melihat kenyataan masyarakat yang awam tersebut, Syaikh Subakir berulang kali menerangkan kepada masyarakat, bahwa dirinya adalah peneliti lingkungan, dan mentadabburi alam semesta, agar kita bertambah takwa dan mensyukuri nikmat ini kepada Allah Swt. Namun sekali lagi kefanatikan masyarakat awam ini terhadap Syaikh Subakir membuat legenda yang dibumbui cerita-cerita yang mengarah kepada perbuatan syirik.

Akhirnya untuk melepaskan kefanatikan masyarakat umum terhadap Syaikh Subakir ini dan untuk menjaga aqidah umat Islam, maka pada tahun 1462 Masehi, Syaikh Subakir pulang ke Persia, Iran agar kefanatikan tersebut runtuh, dan masyarakat awam kembali kepada tauhid yang benar.

Dan selanjutnya posisi Syaikh Subakir digantikan oleh muridnya yang juga ahli di bidang Ekologi, Meteorologi dan Geofisika, serta ahli pertanian dan arsitek masjid yaitu Sunan Kalijaga. Syaikh Subakir meninggal di Persia Iran. Sedangkan yang ada di Indonesia dan diziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya.

Ada beberapa karya Syaikh Subakir yang bergelar Aji Saka, yaitu:
  1. Beliau adalah penemu huruf Jawa, yang berbunyi: HA NA CA RA KA, DA TA SA WA LA, PA DHA JA YA NYA, MA GA BA THA NGA.
  2. Beliau pula yang memberi nama Jawa, yang diambil dari bahasa Suryani artinya tanah yang subur.
sumber:
http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2013/07/syaikh-subakir-anggota-wali-songo.html 

Kesalehan Ekologi

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

al-Insan ibn bi’atihi (Manusia itu anak lingkungannya). Pepatah Arab ini mengandung arti kita memiliki hubungan simbiosis-mutualisme dengan lingkungan hidup kita.

Di satu pihak kita dibesarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan kita, dan di sisi lain kita juga berperan besar dalam merawat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan demikian, kita harus bersikap harmoni terhadap lingkungan kita, dengan tidak mengeksploitasi dan merusaknya.

Dalam banyak hal, manusia cenderung lebih gampang memanfaatkan dan merusak lingkungan hidup, daripada menanam dan menjaga kelestariannya.

Karena membendung nafsu serakah untuk mengeksploitasi alam itu jauh lebih sulit daripada menumbuhkan kesadaran dan kesalehan ekologis.

Kecerdasan lingkungan (environmental quotion) bangsa kita idealnya terus meningkat, karena hampir setiap saat kita dihadapkan kepada aneka bencana alam.

Kita akan semakin cerdas lingkungan jika selalu mengambil pelajaran dan hikmah dari banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, tsunami, kekeringan berkepanjangan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kesadaran untuk merawat dan tidak menebang pohon sembarangan juga perlu dikampanyekan dan disosialisasikan.

Sebaliknya, gerakan menanam pohon dan menghijaukan lingkungan (reboisasi) harus mendapat respon positif dari semua pihak.

Dalam hal ini, Nabi SAW pernah melarang umatnya melakukan penebangan pohon, lebih-lebih pohon itu berfungsi sebagai tempat berteduh manusia atau hewan.

Rasulullah SAW pernah melarang menebang pohon di tanah gurun yang menjadi tempat berteduh manusia atau hewan, dan menganggapnya sebagai arogansi dan aniaya.” (HR. Abu Dawud).   

Sejalan dengan itu, pemanfaatan lahan produktif untuk bercocok tanam, bertani, dan peningkatan produksi bahan pangan merupakan perintah agama.

Artinya, dalam rangka pemeliharaan lingkungan, kita dilarang untuk menelantarkan lahan produktif agar memberi nilai manfaat bagi umat manusia.

Jabir ibn Abdullah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu ada beberapa orang memiliki tanah lebih, lalu mereka berkata: “Lebih baik kami sewakan dengan hasilnya sepertiga, seperempat atau separuh. Tiba-tiba Nabi Saw bersabda: Siapa yang memiliki tanah, maka hendaknya ditanami atau diberikan kepada saudaranya, jika tidak diberikan, maka hendaklah ditahan saja.”  (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, menanam pohon, tanaman, atau tumbuhan yang memberi nilai manfaat sangatlah  penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain.
Bahkan, jika tanaman itu dimakan burung,  binatang, atau manusia, maka yang dimakan itu dinilai sebagai sedekah; dan sang pemilik tanaman itu mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Hadis berikut juga menunjukkan pentingnya gerakan pemanfaatan lahan tidur (yang tidak ditanami) menjadi lahan produktif.

Dengan memanfaatkan lahan menjadi produktif, kelestarian lingkungan menjadi terjaga dan memberi nilai tambah bagi semua.

Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang Muslim yang menanam tanaman kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan tercatat untuknya sebagai sedekah. (HR. al-Bukhari Muslim)

Dengan demikian, penelantaran lahan atau tanah yang produktif sama artinya tidak memedulikan kelestarian lingkungan.

Dalam pelestarian lingkungan, prinsip utama yang harus dipedomani Muslim adalah prinsip kemanfaatan, sesuai dengan hadits Nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” (HR al-Thabarani).

Selain itu, prinsip keberkahan, kasih sayang, dan ampunan dari Allah SWT juga merupakan prinsip sosial yang perlu diyakini dan diaplikasikan dalam pemeliharaan lingkungan.

Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda: “Ada golongan hamba yang pahalanya terus mengalir, sementara ia telah berada dalam kubur setelah kematiannya, yaitu: orang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon, membangun masjid, mewariskan mushhaf, dan meninggalkan anak yang selalu memintakan ampun orang tuanya setelah kematiannya.” (HR. al-Baihaqi, Ibn Abi Dawud, al-Bazzar, dan ad-Dailami).

Dalam hadits lain, Nabi SAW pernah berpesan kepada para pasukannya ketika hendak pergi menuju medan perang untuk tidak: pertama, membuang kotoran (sampah) di tempat aliran sungai, kedua, menebang pohon tanpa alasan, dan ketiga buang air kecil atau air besar (BAB) di bawah pohon yang biasa dilewati atau digunakan manusia berteduh.

Jadi, pelesatarian lingkungan itu sangat tergantung pada faktor manusianya. Reboisasi tidak akan berhasil jika hutan atau tanaman selalu digunduli secara ilegal.

Optimalisasi fungsi lingkungan alam, lingkungan hidup menjadi sangat penting karena ekosistem ini dapat menentukan kualitas hidup kita.

Jika lingkungan kita rusak (tidak sehat, tidak bersih, tidak indah, tidak nyaman), maka kualitas hidup  menjadi terganggu dan tidak nyaman.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan merupakan bagian dari pendidikan Islam yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, mulai dari diri sendiri hingga para petinggi negeri ini agar berbagai bencana dan musibah dapat dicegah dan dihindari.

Esensi kesalehan ekologis adalah menjaga, melestarikan, mengelola, memperbaiki, dan mendayagunakan lingkungan demi kesejahteraan hidup manusia sekaligus memberikan kenyamanan untuk beribadah dan mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Dengan memiliki kesalehan ekologis,  kita hendaknya semakin ramah dan harmoni terhadap lingkungan sekitar kita, karena kita juga yang akan merasakan akibatnya jika kita tidak bersikap saleh terhadapnya.

sumber: 
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/03/07/n211zv-kesalehan-ekologi

Monday, 26 October 2015

Yuk Hidup Ekologis

Apa arti hidup ekologis? Mengapa hidup ekologis perlu dilakukan? bagaimana menciptakan kehidupan yang ekologis?. Tiga pertanyaan mendasar itu akan dijawab secara sederhana dan mudah.

Ekologi merupakan istilah singkatan yang terdiri atas dua kata, eco yang berarti “rumah tangga” dan logos yang berarti “makhluk hidup” meskipun dalam beberapa kata sering diterjemahkan sebagai “ilmu”.

Hidup ekologis berarti rangkaian pemahaman, perasaan, dan perilaku manusia dalam praktik kehidupan sehari-hari yang menyatu dengan alam lingkungan. Hidup ekologis dibutuhkan sebab kelangsungan kehidupan di muka bumi terancam oleh rusaknya ekosistem. Kerusakan ekologi tersebut disebabkan oleh perbuatan manusia yang mengeksploitasi alam. Limbah industri, deforestisasi, penambangan yang eksploitatif, serta sejumlah alasan lain telah menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Dampak dari kerusakan lingkungan itu dapat dialami melalui kejadian sehari-hari. Intensitas paparan radiasi yang meningkat karena penipisan ozon, perubahan cuaca yang tidak terprediksi, suhu bumi yang meningkat, punahnya flora dan fauna, persediaan air bersih yang berkurang, dan masih banyak lagi.

Cara hidup ekologis akan membantu meminimalisir kerusakan ekologis. 
  1. Menanam tumbuhan, 
  2. Menjaga agar tanah tidak terkontaminasi dengan kimia non-organik (jangan buang sampah plastik sembarangan!), 
  3. Menyediakan areal resapan air, 
  4. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, 
  5. Mengadvokasi supaya pabrik bertanggungjawab atas limbah yang dihasilkannya, 
  6. Memisahkan sampah plastik dan sampah organik. 
  7. Menyiram air beras ke tanah, 
  8. Menampung sisa air wudhu untuk keperluan pembasahan tanah, 
  9. ...................... dan masih banyak lagi.
Kampanye hidup ekologis sangat urgen untuk dilakukan oleh siapa saja. Tidak perduli latarbelakang dan usia seseorang. Anak-anak, remaja, orang dewasa, atau lansia wajib menjalankan kehidupan ekologis. PNS, agamawan, militer, polisi, politisi, entrepreneur, pelajar wajib menjalankan kehidupan ekologis.

@Fauzan Anwar Sandiah

Thursday, 22 October 2015

Download Buku Islam Hijau (Green Deen)

This Deen Called Islam

Most people are aware of a global religion called Islam. Islam is a Deen — Arabic for a religion, a path, a way of life. Islam means submission to the will of the One God, Allah. Allah is the Arabic word for God, just as the Spanish word for God is Dios. Allah is the God of Judaism, Christianity, and Islam. By focusing on One Creator, Islam allows humankind the opportunity to be one and to have a common purpose. Muslims believe that Islam is the final expression of the same message that came earlier to the Jews, the Christians, and other monotheistic believers. For Muslims, the revelations prior to the Qur’an are essentially part of a larger canon of understanding. This is why, in Arabic, Christians and Jews are referred to as Ah-lal-Kitab, “people of the book.” Islam recognizes the existence and the legitimacy of other spiritual paths and teaches mutual understanding, respect, and focus on similarities as a means to bring people together, not push them apart. (Ibrahim Abdul Matin)

Download Buku Teologi Lingkungan Hidup

Kata Pengantar Buku Teologi Lingkungan Hidup
Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2011-2015

Tanpa kita sadari, ternyata bumi yang kita diami saat ini sedang sakit. Sakitnya bumi ini merupakan akibat langsung dan tidak langsung perbuatan manusia. Manusia modern dewasa ini sebenarnya sedang melakukan perusakan secara perlahan akan tetapi pasti terhadap sistem lingkungan yang menopang kehidupannya. Indikator terjadinya kerusakan lingkungan sudah sangat jelas, seperti menipisnya lapisan ozon, pemanasan global, dan perubahan iklim, banjir tahunan yang semakin besar dan meluas, erosi dan pendangkalan sungai dan danau, tanah longsor, krisis (kelangkaan) air yang berakibat terjadinya kelaparan dan mewabahnya berbagai penyakit.

Berbagai kasus kerusakan lingkungan yang terjadi baik dalam lingkup global maupun nasional tersebut, jika dicermati sebenarnya berakar dari pandangan dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Perilaku manusia yang kurang kesadaran dan tanggungjawabnya terhadap lingkungannya telah mengakibatkan terjadinya berbagai macam kerusakan di muka bumi. Disamping itu, orientasi hidup manusia modern yang cenderung materialistik dan hedonistik juga sangat berpengaruh.

Kerusakan atau krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini hanya bisa diatasi dengan merubah secara fundamental dan radikal cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Tindakan praktis dan teknis penyelamatan lingkungan dengan bantuan sains dan teknologi ternyata bukan merupakan solusi yang tepat. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan gaya hidup yang bukan hanya orang perorang, akan tetapi harus menjadi budaya masyarakat secara luas. Sadar lingkungan dan upaya penyelamatan lingkungan harus menjadi kesadaran bersama dan menjadi gerakan bersama secara nasional dan global. Karena tanpa kesadaran dan gerakan bersama, bumi kita yang kita tempati yang hanya satu ini benar-benar akan terancam, dan hal ini berarti juga ancaman bagi semua kehidupan di muka bumi ini termasuk manusia.

Atas dasar semangat untuk mengkampanyekan semangat merubah perilaku manusia dalam berhubungan alam dan lingkungannya inilah Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Deputi VI Kementerian Lingkungan Hidup R.I menerbitkan ulang buku Teologi Lingkungan yang telah diterbitkan bersama pada tahun 2007. Buku ini ingin menjelaskan bagaimana sesungguhnya konsep hubungan manusia dengan alam, di mana perlindungan dan pemeliharaan alam merupakan kewajiban asasi manusia yang telah dipilh oleh Tuhan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Terhadap alam manusia dituntut untuk mengembangkan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap saling keterkaitan setiap komponen dan aspek kehidupan di alam, pengakuan terhadap kesatuan penciptaan dan persaudaraan semua makhluk. Konsep hubungan manusia dengan alam tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu pilar dari sistem pusatnilai untuk mewujudkan nilai ajaran agama Islam. Tujuan tertinggi dari sistem pusat nilai ini adalah kemaslahatan dan kesejahteraan universal (seluruh makhluk).

Akhirnya, atas nama Pimpinan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada Bapak Menteri Lingkungan Hidup R.I. beserta seluruh jajarannya atas kepercayaan dan kerjasamanya dengan Muhammadiyah dalam mengembangkan gerakan penyelamatan dan pengelolaan lingkungan. Tidak lupa kami menyatakan bahwa buku ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran demi perbaikan buku ini sangat diharapkan. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua, dan meneguhkan hati kita bersama untuk tetap berjuang mengelola alam dan lingkungannya dengan baik dan benar sebagaimana telah diperintahkan oleh-Nya. Amien.

Yogyakarta, Agustus 2011


Muhjidin Mawardi dan Gatot Supangkat

Download Buku Teologi Lingkungan Hidup

Wednesday, 14 October 2015

7 Rukun Islam Ekologis; Cara Hidup Bahagia Ekologis dan Islami

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Islam pada dasarnya merupakan ajaran yang menawarkan konsep peningkatan kualitas hidup yang bertopang pada ajaran untuk mengikuti kebenaran. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan bahwa Allah maha benar dan maha mulia sebab telah menciptakan alam semesta menurut aturannya tertentu.

Aturan itu telah menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia, dan lingkungan hidup sebagai bagian dari ekosistem alam semesta. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh sebab fungsi manusia di alam semesta adalah menjaga, dan merawat lingkungan.

Setiap nabi, selalu punya tugas dan fungsi ekologis. Nabi Nuh, diperintahkan untuk menyelamatkan hewan, tumbuhan, dan manusia yang berbakti untuk Allah dari kekecauan yang ditimbulkan oleh sikap eksploitatif sekelompok manusia di zaman itu seperti mencemari air, membabat hutan karena keserakahan, dan memperbudak manusia.

Nabi Sulaiman, yang mampu berinteraksi dengan lingkungan, termasuk hewan-hewan. Nabi Sulaiman memperoleh informasi dari lingkungan tentang kejahatan-kejahatan manusia. Nabi Muhammad adalah seorang pengembala yang berkasih terhadap gembalaannya serta memerintahkan pengikutnya untuk menjaga perempuan, anak-anak, dan lingkungan sekalipun dalam masa perang.

Merawat dan menjaga lingkungan berfungsi bagi peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Berbanding dengan sikap eksploitatif manusia terhadap lingkungan dapat memicu kerugian bagi kehidupan manusia itu sendiri. Meretakkan alam berarti meretakkan manusia.

Tujuh rukun Islam Ekologis ala Rumah Baca Komunitas di bawah ini disusun dalam rangka kampanye ekoliterasi.

  1. Merawat alam adalah tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardh
  2. Amal jariyah ekologis adalah aktivitas perawatan ekologi yang punya daya replikasi karena manfaat dan kegunaannya bagi alam semesta yang tak putus.
  3. Seorang hamba Allah yang baik adalah yang mampu menjaga alam sebagaimana dia menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia.
  4. Prinsip agama Islam menjelaskan tiga hal yang tak boleh dirusak; Perempuan, anak-anak, dan lingkungan.
  5. Memanfaatan air sisa wudhu untuk keperluan menjaga unsur hara tanah. caranya ialah dengan menampungnya untuk keperluan membasahi tanah kering atau tandus. di beberapa Masjid model seperti ini sudah dilakukan dalam rangka mengurangi dampak tanah kering akibat kemarau.
  6. Menjaga kualitas kristal air dengan pemanfaatan yang beradab, artinya digunakan untuk perihal yang bermanfaat, tak mubazir, dan digunakan untuk kepentingan banyak orang.
  7. Islam mengajarkan bahwa air, udara, dan tanah adalah wujud kasih sayang Allah terhadap manusia. Air, udara, dan tanah digunakan bebas oleh manusia untuk menopang kehidupannya. merawat air, udara, dan tanah berarti merawat kasih sayang Tuhan terhadap manusia, termasuk menjaganya dari proses eksploitasi dan komodifikasi.