Monday, 26 October 2015

Yuk Hidup Ekologis

Apa arti hidup ekologis? Mengapa hidup ekologis perlu dilakukan? bagaimana menciptakan kehidupan yang ekologis?. Tiga pertanyaan mendasar itu akan dijawab secara sederhana dan mudah.

Ekologi merupakan istilah singkatan yang terdiri atas dua kata, eco yang berarti “rumah tangga” dan logos yang berarti “makhluk hidup” meskipun dalam beberapa kata sering diterjemahkan sebagai “ilmu”.

Hidup ekologis berarti rangkaian pemahaman, perasaan, dan perilaku manusia dalam praktik kehidupan sehari-hari yang menyatu dengan alam lingkungan. Hidup ekologis dibutuhkan sebab kelangsungan kehidupan di muka bumi terancam oleh rusaknya ekosistem. Kerusakan ekologi tersebut disebabkan oleh perbuatan manusia yang mengeksploitasi alam. Limbah industri, deforestisasi, penambangan yang eksploitatif, serta sejumlah alasan lain telah menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Dampak dari kerusakan lingkungan itu dapat dialami melalui kejadian sehari-hari. Intensitas paparan radiasi yang meningkat karena penipisan ozon, perubahan cuaca yang tidak terprediksi, suhu bumi yang meningkat, punahnya flora dan fauna, persediaan air bersih yang berkurang, dan masih banyak lagi.

Cara hidup ekologis akan membantu meminimalisir kerusakan ekologis. 
  1. Menanam tumbuhan, 
  2. Menjaga agar tanah tidak terkontaminasi dengan kimia non-organik (jangan buang sampah plastik sembarangan!), 
  3. Menyediakan areal resapan air, 
  4. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, 
  5. Mengadvokasi supaya pabrik bertanggungjawab atas limbah yang dihasilkannya, 
  6. Memisahkan sampah plastik dan sampah organik. 
  7. Menyiram air beras ke tanah, 
  8. Menampung sisa air wudhu untuk keperluan pembasahan tanah, 
  9. ...................... dan masih banyak lagi.
Kampanye hidup ekologis sangat urgen untuk dilakukan oleh siapa saja. Tidak perduli latarbelakang dan usia seseorang. Anak-anak, remaja, orang dewasa, atau lansia wajib menjalankan kehidupan ekologis. PNS, agamawan, militer, polisi, politisi, entrepreneur, pelajar wajib menjalankan kehidupan ekologis.

@Fauzan Anwar Sandiah

Thursday, 22 October 2015

Download Buku Islam Hijau (Green Deen)

This Deen Called Islam

Most people are aware of a global religion called Islam. Islam is a Deen — Arabic for a religion, a path, a way of life. Islam means submission to the will of the One God, Allah. Allah is the Arabic word for God, just as the Spanish word for God is Dios. Allah is the God of Judaism, Christianity, and Islam. By focusing on One Creator, Islam allows humankind the opportunity to be one and to have a common purpose. Muslims believe that Islam is the final expression of the same message that came earlier to the Jews, the Christians, and other monotheistic believers. For Muslims, the revelations prior to the Qur’an are essentially part of a larger canon of understanding. This is why, in Arabic, Christians and Jews are referred to as Ah-lal-Kitab, “people of the book.” Islam recognizes the existence and the legitimacy of other spiritual paths and teaches mutual understanding, respect, and focus on similarities as a means to bring people together, not push them apart. (Ibrahim Abdul Matin)

Download Buku Teologi Lingkungan Hidup

Kata Pengantar Buku Teologi Lingkungan Hidup
Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2011-2015

Tanpa kita sadari, ternyata bumi yang kita diami saat ini sedang sakit. Sakitnya bumi ini merupakan akibat langsung dan tidak langsung perbuatan manusia. Manusia modern dewasa ini sebenarnya sedang melakukan perusakan secara perlahan akan tetapi pasti terhadap sistem lingkungan yang menopang kehidupannya. Indikator terjadinya kerusakan lingkungan sudah sangat jelas, seperti menipisnya lapisan ozon, pemanasan global, dan perubahan iklim, banjir tahunan yang semakin besar dan meluas, erosi dan pendangkalan sungai dan danau, tanah longsor, krisis (kelangkaan) air yang berakibat terjadinya kelaparan dan mewabahnya berbagai penyakit.

Berbagai kasus kerusakan lingkungan yang terjadi baik dalam lingkup global maupun nasional tersebut, jika dicermati sebenarnya berakar dari pandangan dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Perilaku manusia yang kurang kesadaran dan tanggungjawabnya terhadap lingkungannya telah mengakibatkan terjadinya berbagai macam kerusakan di muka bumi. Disamping itu, orientasi hidup manusia modern yang cenderung materialistik dan hedonistik juga sangat berpengaruh.

Kerusakan atau krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini hanya bisa diatasi dengan merubah secara fundamental dan radikal cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Tindakan praktis dan teknis penyelamatan lingkungan dengan bantuan sains dan teknologi ternyata bukan merupakan solusi yang tepat. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan gaya hidup yang bukan hanya orang perorang, akan tetapi harus menjadi budaya masyarakat secara luas. Sadar lingkungan dan upaya penyelamatan lingkungan harus menjadi kesadaran bersama dan menjadi gerakan bersama secara nasional dan global. Karena tanpa kesadaran dan gerakan bersama, bumi kita yang kita tempati yang hanya satu ini benar-benar akan terancam, dan hal ini berarti juga ancaman bagi semua kehidupan di muka bumi ini termasuk manusia.

Atas dasar semangat untuk mengkampanyekan semangat merubah perilaku manusia dalam berhubungan alam dan lingkungannya inilah Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Deputi VI Kementerian Lingkungan Hidup R.I menerbitkan ulang buku Teologi Lingkungan yang telah diterbitkan bersama pada tahun 2007. Buku ini ingin menjelaskan bagaimana sesungguhnya konsep hubungan manusia dengan alam, di mana perlindungan dan pemeliharaan alam merupakan kewajiban asasi manusia yang telah dipilh oleh Tuhan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Terhadap alam manusia dituntut untuk mengembangkan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap saling keterkaitan setiap komponen dan aspek kehidupan di alam, pengakuan terhadap kesatuan penciptaan dan persaudaraan semua makhluk. Konsep hubungan manusia dengan alam tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu pilar dari sistem pusatnilai untuk mewujudkan nilai ajaran agama Islam. Tujuan tertinggi dari sistem pusat nilai ini adalah kemaslahatan dan kesejahteraan universal (seluruh makhluk).

Akhirnya, atas nama Pimpinan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada Bapak Menteri Lingkungan Hidup R.I. beserta seluruh jajarannya atas kepercayaan dan kerjasamanya dengan Muhammadiyah dalam mengembangkan gerakan penyelamatan dan pengelolaan lingkungan. Tidak lupa kami menyatakan bahwa buku ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran demi perbaikan buku ini sangat diharapkan. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua, dan meneguhkan hati kita bersama untuk tetap berjuang mengelola alam dan lingkungannya dengan baik dan benar sebagaimana telah diperintahkan oleh-Nya. Amien.

Yogyakarta, Agustus 2011


Muhjidin Mawardi dan Gatot Supangkat

Download Buku Teologi Lingkungan Hidup

Mencari Kebahagiaan Hidup dengan 10 Kecerdasan Ekologis dalam Al-Qur'an

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Kecerdasan Islam ekologis (ecology Islam Quotient) pada dasarnya adalah sebuah panduan yang mengajak manusia untuk sadar bahwa syarat awal untuk menjadi “orang-orang yang beriman” (mu’min) adalah pengakuan bahwa Allah Swt merupakan Tuhan ekosistem lingkungan yang harmonis. Allah Swt merupakan pencipta langit dan bumi, serta pengatur ekosistem yang menyerahkan amanah pengelolaan bumi kepada manusia.

Syarat pertama manusia dilepas ke muka bumi adalah perintah untuk mempelajari nama benda-benda. Nabi Adam dituntun oleh Allah untuk mengucapkan benda-benda. Perintah qalam untuk Nabi Adam, juga dilakukan kepada Nabi Muhammad dengan Iqra. Perintah Qalam sebab manusia harus memulai kesadaran baru, sedangkan perintah Iqra agar manusia mulai berbenah diri atas kebahagian yang hendak dicapainya.

  1. Surat al-Mu’min ayat 64: “Allah-lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah, Tuhanmu, Mahasuci Allah Tuhan seluruh alam.”
  2. Surat al-An'am ayat 99 : "Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dari dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serua dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh pada demikian itu ada tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”
  3. Surat al-An'am ayat 165: "Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
  4. Surat al-An’am ayat 38: “Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami lupakan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”
  5. Surat al-Qasas ayat 77: "...berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
  6. Surat al-Baqarah ayat 60: "...makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berbuat kerusakan.
  7. Surat ar-Rum ayat 41: "telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.."
  8. Surat al-Azhab ayat 72: "sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."
  9. Surat an-Nahl ayat 65: "Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang demikian tu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)"
  10. Surat Qaf ayat 9: "Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen."